Скачать бесплатно шаблоны для Wordpress.
Новые шаблоны DLE 10 на dlepro.ru

Sastrawan penyair Sapardi Djoko Damono tidak mau mencampuri urusan produksi film "Hujan Bulan Juni" yang diadaptasi dari karya novel dan puisinya.

Ditemui usai press creening film Hujan Bulan Juni, Sapardi mengaku tidak terlibat di proses produksi film besutan sutradara Hestu Saputra itu.

"Saya nggak mau. Artinya saya lepaskan semuanya. Bagaimana tafsirnya? Terserah kalian semua," ujarnya di Plaza Epicentrum Walk,  Jakarta Selatan,  Selasa (24/10/2017).

Menurut Sapardi, dia tidak suka mengambil sesuatu yang sudah ditulis orang. Di situlah kebebasannya. 

"Kalau sekarang orang mau bikin film, ya dia harus punya kebebasan," ujar penyair berusia 77 tahun.

Sapardi masih tidak mengerti mengapa banyak orang menyukai karyanya,  terutama "Hujan Bulan Juni". 

"Mungkin kebetulan, saya enggak tahu. Saya ketika mengubah dari puisi menjadi novel aja sudah susah, ngos-ngosan gitu. Saya juga enggak tahu kenapa laris banget sehingga diminta untuk dijadikan film. Saya oke, enggak masalah. Bahkan ketika saya mentransfer dari puisi ke novel itu pun lain. Saya tidak lagi ikuti puisi itu. Saya memang nulis novel."

Sapardi mengingatkan calon penonton film Hujan Bulan Juni -- mulai tayang di bioskop 2 November -- tidak  membandingkan dengan karya tulisnya.

"Enggak boleh dibanding-bandingkan. Film (harus) dengan film, buku dengan buku. Itu haram, enggak boleh. Jadi, kalau kita mau bilang itu film bagus apa enggak, jangan tergantung kepada bukunya. Bukunya bisa lebih bagus, bisa lebih laris tetapi bukan itu masalahnya, dengan film lain dia bagus apa enggak," ungkap Sapardi.

Demikian pula bukunya. "Kalau filmnya jelek apa buku saya jadi jelek? Kan enggak. Jadi kalau mau bikin studi ya bandinginnya film dengan film, buku ya dengan buku. Itu prinsipnya. Tak bisa kalau gambar dibandingkan dengan kata-kata. Kata-kata ini tak ada gambarnya," lanjutnya. 

Sebenarnya, kata Sapardi, selain Hujan Bulan Juni, beberapa karyanya yang lain pun ditaksir untuk diadaptasi ke bentuk film layar lebar.

"Saya kan nulis 5-6 novel pendek. Yang lain itu agak susah. Saya juga agak heran, ini kan novel susah. Hujan Bulan Juni kan bukan novel gampangan, tapi kok banyak sekali yang suka? Saya juga heran," katanya. 

Apalagi macam trilogi Soekram yang menurutnya lebih susah lagi. Tapi misalkan itu dijadikan film, bisa dahsyat. 

"Karena sekarang banyak yang kayak gitu, daripada susah-susah bikin cerita mending ambil dari novel. Membuat cerita kan lebih susah dari membuat filmnya," ujar Sapardi. 

Puisi Hujan Bulan Juni diakui Sapardi sebagai kisah nyata dalam hidupnya.

"Adegan pertama di Hujan Bulan Juni itu terjadi di hidup saya. Tapi bukan ada hubungannya dengan novel itu. Dan bulan Juni beneran, saya masih ingat tanggal 24 Juni di Jogja," ujar sang maestro puisi sambil terus bercerita soal puisinya yang tersohor itu.

"Itu sederhana sekali. Bahwa hujan di bulan Juni kan tidak ada. Kemudian kalau ada hujan jatuh, itu yang saya tangkap. Jadi saya menggambarkan saja. Saya tidak punya pesan sama sekali. Itu haram bagi saya memberikan pesan dalam puisi," paparnya. 

Bagaimana komentar Sapardi soal film yang sudah ditontonnya itu? 

"Si Estu (sutradara) itu mempunyai akal yang luar biasa. Dia punya keberanian, edan. Dia bikin puisi dengan gambar, kalau saya dengan kata-kata. Dan dibantu oleh cameraman. Jagoan itu cameraman-nya. Ambil dari sana dari sini angle-nya. Itu dahsyat," katanya.

Hujan Bulan Juni dibintangi sejumlah aktor dan aktris ternama Tanah Air seperti Adipati doken, Velove Vexia, Baim Wong, Surya Saputra, Koutaro Kakimoto dan banyak lagi. Dalam film ini,  Sapardi ikut tampil sebagai cameo,  ayah dari Sarwono yang diperankan Adipati Dolken.  (imam

Last modified on Friday, 27 October 2017
Read 106 times
Rate this item
(0 votes)
TIS

шаблоны joomla на templete.ru