Скачать бесплатно шаблоны для Wordpress.
Новые шаблоны DLE 10 на dlepro.ru

Tokoh perfilman Indonesia yang dijuluki 'bapak perfilman' H Usmar Ismail sejak tahun 2016 diusulkan mendapat gelar pahlawan nasional dari pemerintah.

Usul pemberian gelar pahlawan tersebut kian mengental dan mendapat dukungan sejumlah organisasi perfilman, termasuk Pusat Pengembangan Perfilman (Pusbangfilm) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 

Pemberian gelar pahlawan untuk H Usmar Ismail didasarkan pada perjuanganya yang tidak sebatas di dunia film tapi juga kiprahnya sebagai sastrawan, seniman. wartawan dan tentara. 

Beberapa kegiatan pun digulirkan oleh Yayasan Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail (YPPHUI) yang diketuai oleh H Irwan Usmar Ismail untuk sosialisasi. Mulai dari diskusi tentang film Usmar Ismail di Jakarta dan Jogjakarta, hingga acara Car Free Day mengusung tema pahlawan

Keluarga besar H Usmar Ismail, yang diwakili satu dari kelima putranya, H Irwan Usmar Ismail menyambut positif wacana yang digagas Sony Pudjisasono (Sekretaris YPPHUI).

"Atas nama keluarga besar almarhum ayah saya Usmar Ismail, saya ucapkan terimakasih atas ide dan sambutan pihak-pihak yang mendukung. Ini akan berdampak positif terhadap perfilman nasional," kata H Irwan Usmar Ismail kepada tabloidkabarfilm.com, Selasa (24/10/2017).

Menurut Irwan usulan pemberian gelar pahlawan itu muncul bersamaan dengan rencana pihaknya membuat monumen H Usmar Ismail dan buku biografi Usmar Ismail. 

"Saya punya rencana bikin monumen pak Usmar Ismail di depan Gedung Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail. Waktu Itu bersamaan dengan akan dimulai kegiatan Usmar Ismail Awards. Lalu muncul ide untuk mengusulkan pemberian gelar pahlawan nasional," jelas Irwan. 

 

Meneruskan Perfini

Sebagai satu-satunya penerus H Usmar Ismail di dunia perfilman, Irwan sempat menjadi produser Perfini yang sangat bersejarah. Ketika kecil Irwan ikut bermain dalam film yang disutradarai ayahnya, Tiga Dara. Setelah itu berperan di film Sengketa, dan Tiga Buronan (Nya Abbas Acup). 

Namun,  Irwan tidak intens menekuni dunia film, bahkan merasa trauma untuk menjadi sutradara. Setelah main tiga film, Irwan meneruskan pengelolaan PT Perfini milik ayahnya.  

"Karena saya lihat pekerjaan ayah waktu bikin film Adinda (1970). Beliau pulang ke rumah saat kami sahur," kata Irwan mengenang saat-saat terakhir ayahnya membuat film. 

Dari lima anak Usmar Ismail, hanya Irwan yang bersentuhan dengan dunia film. "Itupun hanya urusan kecil saja," kata Irwan. 

Menurut Irwan, Perfini yang pernah dikelola oleh Usmar Ismail sempat dia lanjutkan. Namun, akhirnya kandas. 

"Salahnya saya ketika itu karena tak siap bersaing dengan rumah produksi raksasa, sehingga Perfini berhenti produksi dan tidak bisa bayar kredit bank, lalu aset studio dikembalikan ke bank," ungkap Irwan yang menyesal, karena tidak mampu mengelola rumah produksi bersejarah itu. 

Yang kini meresahkan Irwan, lahan luas studio PT Perfini di kawasan Mampang, Jakarta Selatan kini diklaim menjadi milik warga.

"Ketika Perfini tidak bisa membayar cicilan kredit, lalu asetnya dikembalikan ke bank. Karena bank tidak sanggup mengelola lahan itu, pihak bank pun menyerahkan pengelolaannya ke PPFN," jelas Irwan yang kini masih memegang dokumen lahan PT Perfini.

Kembali ke usulan gelar pahlawan nasional untuk Usmar Ismail, menurut Irwan saat ini masih dalam proses. (imam

 

 

 

 

 

Last modified on Wednesday, 01 November 2017
Read 126 times
Rate this item
(0 votes)
TIS

шаблоны joomla на templete.ru