Скачать бесплатно шаблоны для Wordpress.
Новые шаблоны DLE 10 на dlepro.ru

Tahun 2017 menjadi tahun penting bagi aktor pemeran sinetron dan FTV Tio Duarte. Pasalnya, untuk pertamakali pria kelahiran Jakarta 1975 ini akan berperan di film layar lebar yang ditangani sutradara senior Adisurya Abdi.

“Saya bangga sekali pertama kali main film langsung disutradarai oleh Adisurya Abdi," ungkap Tio Duarte yang dijumpai di lokasi syuting film Stadhuis Schandaal, Studio Persari, Jakarta Selatan, Jumat (1/12/2017).

Menurut Tio, cerita film yang diperankannya itu memiliki bobot yang mendalam dan unik. 

"Ada unsur cerita sejarah masa lalu, tentang ekonomi perdagangan dan cinta,” tutur pria ganteng kelahiran tahun 1975 yang memerankan Wisnu, ayah Fei, sebagai tokoh utama.

Tio berharap perannya di Stadhuis Schandaal dapat membuka akses aktingnya di film layar lebar.

Demi mendalami karakter Wisnu, selain diskusi dengan sutradara, Tio mengikuti kursus khusus pendalaman karakter.

”Kalau penampilan sebagai figur eksekutif dan pengusaha orang akan mudah percaya. Tapi, kalau dengan karakter Wisnu saya mesti belajar lebih dalam lagi. Saya tidak ingin kesempatan yang saya dapatkan ini asal lewat saja,” ujar Tio. 

Dia juga berharap film Stadhuis Schandaal mendapat tempat di mata penonton film Indonesia.

”Lebih dari itu, bisa masuk ke festival film nasional dan internasional,” imbuh aktor yang wajahnya kerap tampil sebagai bintang iklan dan model video klip.

Selama proses syuting, Tio akan berada di berbagai lokasi di Jakarta, Pangkalan Bun Kalimantan, dan Shanghai Cina.

Peran Tio di film yang akan berdurasi 100 menit itu cukup kuat, terutama karena dia bermain di delapan belas scene.

"Makanya saya akan optimalkan kemampuan saya di sini,” tegasnya.

Ke depan, dia berharap mendapat peran tokoh antagonis. ”Seperti karakter jahat atau piskopat yang jahat sekali sehingga saya bisa mengeksplore kemampuan lebih banyak lagi,” cerita aktor yang pernah berperan di sinetron Karmila dan Badai Pasti Berlalu.

Harapan Tio Duarte cukup wajar karna dia harus mengibarkan nama fam Duarte di pentas perfilman nasional. 

Tio Duarte pernah dapat penghargaan dari Brunei Darussalam lewat sinetron KOD 486 yang tayang di stasiun televisi di negeri jiran. Dia adalah cucu Henry L Duarte, produser, sutradara, dan tokoh perfilman tahun 1950an. 

”Saya masih dapat tempat di sinetron dan FTV. Terkadang seminggu bisa syuting dua judul,” ujar Tio tentang kesibukan sebelumnya. 

Tio Duarte merupakan putra aktor laga Fara Noor, yang kehadirannya di pentas seni peran bersamaan pada masa mati suri perfilman di tahun 1990an.

Beberapa sinetron dan FTV yang pernah dibintangi Tio Duarte, diantaranya Drama KOD 486 di Televisi Nasional Brunei Darusalam (2006), Ibu Untuk AnakKu di Televisi Cable Astro TV satelit (2007), Anak Naburju di TVRI Nasional (2008), Mencari Jejak Bunda di Indosiar (2012), Ketika Cinta Harus Memilih di Indosiar (2013), Pedang Naga Puspa di SCTV (2015), sinetron Tersanjung di Indosiar (1996), dan lain-lain. (imam

Last modified on Saturday, 02 December 2017
Read 98 times
Rate this item
(0 votes)
TIS

шаблоны joomla на templete.ru