Скачать бесплатно шаблоны для Wordpress.
Новые шаблоны DLE 10 на dlepro.ru

Nama Intan dan fotonya viral beberapa hari ini sejak kebakaran hutan di Kalimantan. Wajah manisnya tersebar di dunia maya sedang berjibaku mengatasi asap kebakaran bersama rekannya sebagai tim relawan. Siapakan sosok gadis inspiratif itu? Dia adalah relawan bencana yang tergabung di Sekolah Relawan sejak tahun 2014.

Gadis kelahiran Bogor 17 Maret 1996 ini mengaku terkejut ketika foto-fotonya di lokasi kebakaran hutan di Kalimantan tahun 2015 itu muncul lagi. “Cuma agak sebel juga, sih. Soalnya foto dari berita lama kenapa di upload  lagi,” kata Intan dalam obrolan dengan tabloidkabarfilm.com, Sabtu (21/9/2019) malam.

Dalam salahsatu foto itu, Intan dengan rambut diikat kebelakang juga memakai kaos jersey tim sepakbola Manchester United. Pada foto lainnya, dia sedang bertugas, dan menutup wajahnya dengan masker. Ada juga serta foto tim relawan sedang melaksanakan solat di antara kabut asap.

Menurut Intan, foto-foto yang tersebar itu benar dirinya. “Tapi, itu foto kejadian waktu kebakaran tahun 2015 di Kalimantan,” kata penyuka kegiatan traveling dan fotografi ini.

Ketika pertama foto diunggah tahun 2015, Intan belum mengenal siapa pengunggahnya. Tetapi, dia tahu siapa pengunggah foto-foto yang disebar ulang di bulan September 2019. “Enggak masalah buat aku. Tapi, berita lama ngapain di-up lagi? Padahal kan, banyak cewek relawan lainnya di sana sekarang,” katanya.

Intan sendiri baru akan berangkat ke Kalimantan, menyusul rekan-rekannya yang sudah lebih dulu berada di lokasi bencana. “Aku baru mau berangkat besok (Minggu, 22 September 2019) subuh berangkat sendiri dari bandara Soeta ke Kalimantan. Nyusul teman-teman, sambil drop donasi,” ujarnya.

Aktivitas Intan sebagai relawan bencana telah dimulai sejak bergabung di Sekolah Relawan tahun 2014. Sekolah Relawan merupakan komunitas tempat berkumpulnya aktivis sosial terutama dalam rangka membantu penanganan bencana. “Sekolah itu hanya namanya, yang menjadi tempat kami mencari ilmu untuk bermanfaat dalam berbagai cara,” katanya.

Sejauh ini kegiatan yang dilakukannya tidak mendapat rintangan dari orangtua. Bahkan, menurut Intan kedua orangtuanya yang mendidik untuk mengenal dunia sosial, sehingga dirinya merasa tergerak menjadi relawan.

“Dari kecil aku dikenali dunia relawan oleh ibuku, terutama waktu terjadi bencana tsunami di Aceh. Suatu hari aku dan adikku ingin ikut membantu, lalu ibuku ngasih support supaya aku menabung dan mengirim donasi ke Aceh,” ujar Intan.

Kesadaran Intan untuk membantu sesama yang sedang dilanda musibah terus muncul, bahkan sampai dia lulus pendidikan di Politeknik Negeri Media Kreatif Jakarta tahun 2017. Saat dia bekerja di bidang organizer dan advertising pun tetap ikut ke lapangan ketika dibutuhkan.

“Sekarang kebetulan aku menjadi freelance di bidang kreatif dan fotografi, jadi lebih gampang jika dibutuhkan,” katanya penuh semangat.

 

Syarat menjadi relawan

Intan mengaku selalu mempersiapkan diri jika diminta ke lokasi bencana kebakaran hutan, termasuk ketika ditugaskan ke di Kalimantan. “Sekarang aku lebih prepare dan melakukannya masih secara independen. Maksudnya, aku galang dana dan kumpulin pakaian secara pribadi. Tapi, tapi ada juga kalau kita bisa juga ke Sekolah Relawan,” kata Intan.

Keberangkatan Intan ke Kalimantan kali ini membawa dana yang masuk ke rekening pribadinya, yang jumlah totalnya mencapai hampir Rp9 Juta. Dia juga membawa vitamin yang dibutuhkan anak-anak dan ibu hamil yang menjadi prioritasnya. “Selain itu aku bawa oksigen dan masker untuk relawan, dan pakaian untuk selama di sana. Yang pasti, kondisi fisik harus dijaga supaya enggak drop,” jelasnya.

Ketika diberangkatka ke lokasi bencana kebakaran di Kalimantan tahun 2015, Intan hanya membawa kamera. Karena dia bertugas membantu dokumentasi untuk laporan ke donatur.

Menjadi relawan menurut Intan tidak mudah seperti yang dibayangkan. Sebab, dia harus sehat secara fisik dan mau ditempatkan di mana saja, secara mental tidak lemah, dan minimal punya ilmu untuk survive di alam. “Karena kita tidak tahu situasi terburuk yang akan terjadi di lokasi bencana. Syarat lainnya, harus ikhlas karena kalau tidak ikhlas akan berat ngejalaninnya.

Pekerjaan Intan saat ini membuatnya sering keluar kota, sehingga dia kerap harus pulang ke Bogor tempat tinggal kedua orangtuanya. “Ibuku sangat mendukung kegiatanku, dan untungnya aku enggak pernah kasih jarak temen-teman relawan dengan ibuku. Jadi mereka sudah saling kenal. Malah sekarang untuk ke Kalimantan ibuku mau ikut bantu distribusi air bersih bersama teman-teman relawan.

Menurut Intan, yang disebut relawan tidak harus terlibat dalam bantuan bencana alam atau kebakaran tapi adalah sebaik-baiknya menjadi berguna. Dalam keadaan apapun mengambil kesempatan dan mengambil peran untuk membantu orang lain.

“Makna relawan sangat luas, bisa dalam bentuk sharing informasi yang berguna, stop hoax, bisa ngajarin desain, ngajarin foto, bahkan sampai bisa bantu ibu-ibu menyebrang jalan pun sudah cukup menjadi relawan untuk diri sendiri. Karena kita tidak tahu amal mana yang akan diterima sama tuhan. Jadi terus aja berbuat baik,”ujar Intan yang berharap menjadi relawan sampai tutup usia. (imam)

 

Last modified on Thursday, 07 November 2019
Read 1083 times
Rate this item
(0 votes)
Tagged under
TIS

шаблоны joomla на templete.ru