Скачать бесплатно шаблоны для Wordpress.
Новые шаблоны DLE 10 на dlepro.ru

Mantan model, presenter dan bintang iklan HRM Bagiono, SH MBA baru terpilih sebagai Ketua Paguyuban Artis Film Indonesia (Pafindo) periode 2015-2018 menggantikan Piet Pagau. Nama Bagiono yang kini berprofesi pengacara itu pernah aktif di partai Hanura dan sempat mengikuti pencalonan anggota DPRD DKI tahun lalu.

Pafindo didirikan tiga tahun lalu oleh sejumlah tokoh perfilman (diantaranya mantan anggota Persatuan Artis Film Indonesia/ Parfi). Organisasi baru ini sudah bekerjasama dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) dan memiliki program kerja. 

Di tengah kesibukannya pada Kamis (4/6/2015) lalu, pengacara yang berkarir sejak 7 tahun silam ini menjawab pertanyaan Teguh Imam Suryadi dan fotographer Dudut Suhendra Putra dari tabloidkabarfilm.com di Mall Kota Kasablanka, Jakarta Selatan.

Obrolan mulai dari soal organisasi Pafindo hingga kasus prostitusi yang melibatkan nama artis. Berikut ini petikan wawancara dengan pria kelahiran Magelang, 6 Desember 1969 yang akrab disapa Gion tersebut:

Apa yang melatari berdirinya Pafindo? 

Pafindo lahir dari semangat teman-teman entertaint yang ingin membuat komunitas atau paguyuban sendiri.  Mereka yang masuk Pafindo adalah orang-orang pekerja seni. Pada periode pertama saya tahu banyak soal Pafindo, kebetulan waktu itu menjadi Sekjen. Ketua pertama adalah om Piet Pagau. 

Pafindo berbeda dengan Parfi, Parsi, atau RAI?

Saya kira Pafindo hadir tidak untuk membanding-bandingkan diri. Kebetulan background saya pemain sinetron, presenter acara Halo Dangdut, juga sempat menjadi model. Sehingga saya bersama teman-teman lainnya mendirikan organisasi ini. 

Karena untuk masuk organisasi yang lainnya perlu persyaratan khusus misalnya soal jenjang. Di Pafindo tidak diberlakukan itu. Yang penting pernah main dan mendapat dialog. Kami hadir agar bisa diakui, misalnya jika zonding ke pemerintahan. Karena selama ini, kami sudah bekerjasama dengan Badan Anti Narkotika Nasional (BNN).

Lebih tepatnya Pafindo itu kumpulan artis film, iklan atau sinetron?

Kami membuat Pafindo ini sebagai kumpulan pekerja seni yang sedang memulai, bukan yang sudah ‘jadi’.  Pafindo memposisikan diri diantara organisasi yang ada sebagai mitra. Pafindo mencari bibit artis untuk dikembangkan dan dikaryakan. Tetapi kami bukan agency. Di sini, kita tingkatkan sumberdaya yang ada dan menyalurkannya sesuai dengan potensi-potensi yang ada di antara anggota.

Tidak harus orang film, tetapi juga iklan dan sinetron. Bahkan, dari 500 anggota kami saat ini sangat banyak dari pemain sinetron.

Soal logo Pafindo yang mirip logo Parfi?

Oh, tidak begitu. Kami tidak bermaksud menyamai logo Parfi. Logo Pafindo ada bagian topeng sebagai lambang sineas. Jika kita membuat logo yang lain, nanti dianggap keluar koridor. Soal warnanya juga berbeda dengan logo Parfi. Tetapi memang banyak diantara anggota Pafindo tadinya orang Parfi.

Yang jelas, kami ingin memiliki organisasi yang dapat memberi apresiasi kepada anggotanya. Misalnya saja, ketika pemilihan ketua kemarin itu dilakukan secara voting. Itu pemilihan yang benar-benar demokratis. Ini kan jarang terjadi di organisasi perfilman. Dari cara pemilihan seperti ini, kita mengajarkan ke anggota untuk belajar berdemokrasi.

Program Pafindo ke depan seperti apa?

Kami akan terus lanjutkan kerjasama dengan pemerintah. Saat ini Pafindo sudah bekerjasama dengan BNN, baik dalam bentuk promosi maupun produk acara. Begitu pula dengan Departemen Sosial. Untuk kerjasama dengan Kementerian Pariwisata sedang kami jajaki.

Jangka pendeknya adalah bagaimana mengangkat nama Pafindo dan mempertahan track record yang bagus agar organisasi ini tidak dianggap karbitan. Kami ingin ikut berkontribusi bagi kebaikan dunia eternainment di tanah air.

Di jangka menengah, Pafindo akan memproduksi film dan sinetron dengan sumberdaya dari dalam. Sedangkan program jangka panjang kami mempersiapkan sumberdaya untuk menghadapi era persaingan global, termasuk era Masyarakat Ekonomi Asia (MEA). 

Era ini akan mejadi benturan yang keras bagi profesi artis Indonesia, karena bersaing secara langsung dengan professional dari Negara luar seperti Malaysia, Thailand, Singapura, dan lainnya, yang bisa saja mereka masuk ke Industri hiburan Indonesia.

Program paling dekat Pafindo adalah menggelar seminar, yang akan mengangkat tema tentang bagaimana menghadapi era globalisasi dan MEA tadi.

Bagaimana Anda menyikapi kasus prostitusi yang lagi hits, dan menyeret nama-nama artis?

Saya sangat menyayangkan hal ini. Karena artis adalah figur yang bisa diteladani. Dia bisa dijadikan contoh oleh masyarakat. 

Ketika mereka memberikan contoh seperti itu, sama seperti mengajarkan orang untuk secara mudah mencari uang. Tujuannya jelas, menjadi artis bukan sebagai pekerja seni, sebagai contoh yang baik, tapi menjual diri.

Sebagai anggota masyarakat dan juga berkecimpung di dunia entertainment, saya akan memberikan pemahaman  kepada anggota Pafindo untuk tidak melakukan itu. Kalaupun terjadi, itu bersifat pribadi, saya sekadar memberikan saran.

Tepatkah mereka yang terlibat prostitusi disebut sebagai artis?

Nama artis itu sebenarnya terkait bidang profesi dunia seni. Penyebutan artis ini, sayangnya diberikan oleh media secara sembarangan. Kita tidak tahu dia main sinetron atau film apa, seperti apa, track recodnya bagaimana, tiba-tiba disebut artis. Baru muncul di media, sudah disebut artis. Yang salah kan, teman-teman wartawan juga dalam memberi label artis hehehe.

Anda tertarik dengan organisasi ini demi meningkatkan performa sebagai pengacara?

Saya cukup lama berkecimpung di dunia seni peran di era 90an. Kemudian saya menekuni profesi lawyer. Nah, saya tidak pernah berniat menjual profesi kepengacaraan saya di dunia entertainment. Bahwa ada orang yang seperti itu, ya silakan begitu. Saya memilih ‘menghindar’ cara-cara seperti itu. 

Saya selalu membedakan kapan tampil sebagai pengacara, kapan tampil sebagai orang seni. Saya tidak mencampuraduk kedua profesi yang sangat berbeda. Itulah mengapa saya tidak pernah muncul jadi pengacara artis, meskipun jika mau peluang itu sangat besar. **

 

Foto Lainnya: 

Last modified on Monday, 08 June 2015
Read 3670 times
Rate this item
(0 votes)
TIS

шаблоны joomla на templete.ru