Скачать бесплатно шаблоны для Wordpress.
Новые шаблоны DLE 10 на dlepro.ru

ANGIN baru perfilman nasional sedang berhembus. Sejumlah asosiasi perfilman hadir, salah satunya Asosiasi Produser Film Indonesia (APROFI) yang diketuai produser pemilik PT LifeLike Pictures, Sheila Timothy.

Lala, sapaan Sheila Timothy menjadi Ketua Aprofi periode 2013-2016. Dia terpilih pada Kongres Pertama Aprofi di Hotel JW Luwansa, Kuningan, Jakarta Kamis (17/10/ 2013). Hadir saat itu 26 produser baik pemilik rumah produksi maupun perorangan. 

Asosiasi ini ingin berkontribusi pada pengembangan industri film Indonesia dalam berbagai aspek. Mulai dari pemetaan potensi perfilman Indonesia, regulasi, pengembangan kualitas sumberdaya manusia, hingga promosi dan bentuk-bentuk kerjasama Internasional yang lebih menguntungkan. 

Kongres juga membentuk Dewan Pengurus dan Dewan Pertimbangan Dewan Pengurus diketuai oleh Sheila Timothy, bersama Mandy Marahimin dan Fauzan Zidni. Sedangkan Dewan Pertimbangan terdiri dari Mira Lesmana, Shanty Harmayn, dan Erwin Arnada. 

Berikut obrolan Tabloid Kabar Film dengan wanita kelahiran Jakarta, 29 November 2971 di kawasan Jl Wijaya, Jakarta Selatan, beberapa saat setelah dirinya menjadi ketua Aprofi: 

Bagaimana ceritanya sampai terbentuk Aprofi? 

Sebetulnya kebutuhan untuk punya asosiasi sudah lama. Kalau PPFI kan menaungi perusahaan film, sementara Aprofi kebutuhan kita adalah individu profesional. 

Meskipun sama-sama produser? 

Kalau PPFI adalah organisasi yang anggotanya punya perusahaan sebagai owner. Tapi kalau dia mau jadi anggota Aprofi sebagai individu, itu bisa. Tapi ada beberapa produser, dia profesional tapi tidak punya perusahaan. Banyak produser seperti ini. Nah, dia tidak ternaungi, maka dibentuklah Aprofi. 

Aprofi lebih pada capacity building atau pengembangan kemampuan produser. Karena kita tahu kesulitan-kesulitan industri film. Jadi film harus diperbaiki sebelum merujuk ke hal-hal lain. 

Sebenarnya kalau mau introspeksi, kita sebagai produser masih banyak yang harus dipelajari. Bagaimana menghasilkan produk budaya film, yang bukan hanya konsepnya bagus tapi juga punya visi dan misi dan juga investasi, yang semuanya diperlukan pengetahuan-pengetahuan. Itu salah satu program Aprofi. 

Berapa lama proses terbentuknya Aprofi?

Ya proses lama juga. Kita mulai kumpul-kumpul, diskusi segala macam. Ketika ada deklarasi IMPASS (Indonesia Movie Pictures Association) di kantor Kemenparekraf (Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif-red) , kita hadir pakai nama Asosiasi Produser Sinema Indonesia (APSI). Tapi nama itu kemudian diganti karena APSI ada juga untuk organisasi buruh. Dan kita fikir, ‘sinema’ juga rancu. Takutnya itu dikira bioskop. Akhirnya jadi Aprofi. 

Waktu di Parekraf kita sudah mantap, tapi belum kongres karena harus ada AD/ART, susunan pengurus dan penunjukan siapa ketua, dewan pertimbangan dan lain-lain. Jadi waktu di Parekraf itu kita bersepakat dulu bikin asosiasi. Tapi di Aprofi ini kita harus beresin dulu. 

Apa yang ingin disampaikan Aprofi kepada masyarakat dan pemerintah? 

Bukan pesan mungkin ya. Ada program kerja pengurus jangka pendek dan panjang. Tapi secara kerjasama dengan stakeholder perfilman, termasuk pemerintah, kita berpartner, memberi sumbangan ke pemerintah sesuai dengan perkembangan yang kita dapat di lapangan. Misalnya, kemarin pemerintah mau mengeluarkan Peraturan Menteri (Permen) karena UU Perfilman perlu PP dan Permen untuk bisa dilaksanakan. Nah, kemarin kita sama-sama dari Aprofi dan asosiasi lainnya ke Dirjen Film memberi masukan kepada pemerintah. Ini salah satu action kita yang pertama. 

Bagaimana sinergi dengan bioskop? 

Kalau bicara produser, kita tak bisa ngomong hanya soal distribusi, tapi juga investasi awal, pre produksi, produksi, sampai ujungnya promosi, marketing, distribusi dan eksibisi. Kita akan bersinergi dengan bioskop karena hubungan produser dan bioskop adalah partner mencari win-win solution

Tapi kita minta bantuan pemerintah untuk bisa mengatur. Karena selama ini aturannya belum jelas. Tata edarnya belum jelas, karena UU-nya belum punya juklak berupa Permen dan PP. 

Apakah masalah yang dihadapi Aprofi sama dengan PPFI? 

Saya bicara dengan Pak Zairin dari PPFI, prinsipnya juga sama. Ya sama-sama, selama visi dan misi sama. Misalnya dalam hal distribusi. Mau tidak mau eksibisi yang paling depan adalah bioskop 21 dan kita harus cari jalan supaya kita bisa meningkatkan industri ini. 

Seperti apa sih pentingnya Aprofi bagi produser baru? 

Sangat genting sekali. Sama-sama kita tahulah, jumlah penonton kita merosot terus. Misalnya ada filmnya Raditya Dika yang penontonnya sampai 800 ribu, kemudian ada film lainnya 300 ribu, dan ada yang drop 100 ribu penonton. 

Mau tidak mau kita harus sama-sama. Tidak bisa kita teriak ‘oh ini salahnya bioskop 21. Atau bioskop 21 jahat’. Maksudnya, kita di industri ini adalah ekosistem. Banyak orang dan banyak macam-macamnya. Pastinya ada beberapa kesalahan pihak tertentu di masa lalu. Tapi kan tidak bisa terus menyalahkan yang lama. Menurut saya, saatnya kita cari solusi, jangan teriak-teriak lagi. 

Pengembangan profesi seperti apa yang dilakukan Aprofi? 

Jadi ada pengurus yang akan kita bentuk dan sekarang masih dalam proses. Salah satunya masalah capacity building. Kita juga punya bidang aksi dan kebijakan, ada research and development. Biar bagaimanapun kalau kita kasih masukan ke pemerintah, harus ada data. Tidak bisa kita bilang ‘kita lagi berusaha’. Seperti sumbangan pajak kita berapa? Potensi yang bisa digarap apa? Misalnya di luar Jawa potensinya besar sekali. Karena bioskop dimana-mana di seluruh dunia memang lagi sulit, mungkin kita jangan terpaku di bioskop dengan membangun jalur distribusi lain. Misalnya komunitas-komunitas film di luar bioskop yang bisa kita rangkul. 

Bagaimana upaya Anda untuk membangun kepercayan penonton film Indonesia?

Saya masih optimis. Bahkan waktu film Modus Anomali (produksi kedua LifeLike). Sekarang harus pinter-pinternya si produser merancang strategi. Waktu Modus Anomali selain dapat dari penonton lokal, juga dari internasional. Walau di luar negeri untungnya tidak berlipat ganda. Karena ke luar negeri cost-nya juga besar. Tapi sumber-sumber penghasilan itu bisa menyelamatkan produksi. 

Bagaimana mengatur ritme Anda sebagai produser dan ketua organisasi? 

Karena baru dua minggu, jadi belum capek.. hahaha. Saya mau bilang, hal ini karena kita memang butuh. Kalau kita tidak do something di industri ini, ya itu tidak cinta. Kalau cinta dan suka film dan mau tetap di sini, ya mau tidak mau kita harus sama-sama beresin. Jadi, pola pikirnya adalah merasa ada hal yang menyenangkan di industri ini. Ada sesuatu yang didapat dari film. 

Termasuk menyiasati untung dan ruginya? 

Itu pasti. Sebagai produser tidak mungkin saya katakan ‘saya bikin film terserah mau ada penonton apa tidak’. Tidak bisa begitu. Karena kita punya investor yang harus kita per¬tanggungjawabkan uangnya. Tapi juga, tidak melulu cari komersialnya. Karena ada tanggungjawab kepada penonton, dan bikin film juga harus ‘bener’. Bener kan tergantung.. 

Apa saja syarat menjadi anggota Aprofi? 

Harus ada lima rekomendasi dari anggota Aprofi. Bisa siapa saja. Misal ada yang mau masuk ke Aprofi harus ada 5 anggota Aprofi bilang ‘oke ini masuk’. Ini sesuai AD/ART Aprofi. 

Sudah terdaftar, kan? 

Aprofi sudah masuk di daftar ke KumHAM. Sekrektariat sementara di kantor saya karena saya ketuanya. Di sini jadi lebih efektif. Tapi nanti kalau tiga tahun lagi mungkin bisa punya gedung. Hahaha.. becanda. Be¬rat kalau sampai punya gedung. Di sini saja, karena saya juga tidak kemana-mana. 

Film 308 diputar ulang di bioskop, apa tanggapan Anda? 

Seharusnya memang seperti itu. Seperti di Malaysia misalnya film yang berprestasi membawa nama Malaysia harus diputar lagi di bioskop. Di Malaysia ada organisasi Finas (Perbadanan Kemajuan Filem Nasional Malaysia-red) yang mengatur itu. Mereka yang menjadi kuratornya. Film mana yang berhak mendapatkan fasilitas itu.

Kalau di kita belum ada lembaga seperti Finas. Cuma di UU Perfilman disebut film yang berhak seperti ini adalah film yang bermutu. Nah, ‘bermutu’ kan subyektif. Setiap orang merasa filmnya bermutu. Harus ada lembaga khusus untuk menilai film ‘bermutu’. Seperti juga di Korea ada Kofic (Korean Film Council-red). 

Penonton perlu dibina juga, seperti apa konsep Aprofi? 

Nanti kita punya program di bagian komisi yang membidanginya. Sekarang belum. Tapi pengalaman saya jalankan adalah talkshow di sekolah-sekolah. Waktu Modus Anomali kita promo ke 11 sekolah. Saya sebagai produser bercerita soal tugas produser. Orang taunya produser punya uang. Padahal tidak seperti itu. Saya juga ajak sutradara Joko Anwar, dan kru lainnya seperti music director, sound designer, fotografer still. Mereka masing-masing bercerita tentang tugasnya. 

Intinya dari talkshow itu, anak-anak tahu bikin film tidak mudah. Sehingga mereka akan menghargai film. Tetapi, suka tidak suka, kembali ke orang masing-masing apakah mau nonton film ke bioskop. Jadi banyak pekerjaan rumah kita. Mulai dari bersinergi dengan bioskop, mendekati penonton, dan bersinergi dengan pemer¬intah untuk hal-hal tertentu untuk perfilman. 

Menjadi anggota Aprofi pasti mendapat ‘job’? 

Tidak sampai ke situlah kita. Kita tidak mengurus ke bisnis-bisnis, kita tidak ngasih kerjaan. Tapi kita kasih benefit, misalnya memberi akses semudah-mudahnya informasi melalui website. Dimana anggota bisa tahu tentang apa saja. 

Misalnya, kalau mau kirim film ke festival di luar negeri, birokrasinya kan ribet. Mereka yang tidak tahu akan dijelaskan di website. Di sana, kita buat struktur yang harus dilakukan apa saja untuk ke festival di luar negeri. Ada komisi advokasi dan kebijakan yang menangani. 

Jadi, hal-hal yang praktis sajalah yang kami kerjakan. Karena kita di Aprofi nyambi sambil urus kerjaan dan film. Waktunya terbatas. Tapi kami ingin memberi sesuatu kepada anggota. Pertemuan rutin dilakukan melalui faksimil, email, dan komunikasi lain. Sekarang kalau mau ketemu kan susah. Macet. (kf/imam) 

Foto lainnya: 

 

Last modified on Saturday, 15 March 2014
Read 3547 times
Rate this item
(0 votes)
TIS

шаблоны joomla на templete.ru