Скачать бесплатно шаблоны для Wordpress.
Новые шаблоны DLE 10 на dlepro.ru

BOWO Leksono (38) pendiri komunitas Cinema Lovers Community (CLC) Purbalingga menuai hasil kerja kerasnya. Ia pun meraih penghargaan sebagai "Insan Penggerak Komunitas Film" dari ajang Anticorruption Film Festival (ACFFest) yang diadakan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pekan lalu di Yogyakarta.

Berangkat dari kesenian teater sejak 1994, mantan wartawan ini telah menghasilkan puluhan film, fiksi dan dokumenter. Berbagai ajang festival film diikuti dan beberapa diantaranya menyabet nominasi dan penghargaan.

Film pendek pertamanya dibuat tahun 2004 berjudul Orang Buta & Penuntunnya menjadi tonggak sejarah perfilman di Purbalingga. Bersama beberapa komunitas film pada 2006, alumni Fakultas Hukum UNDIP Semarang ini membentuk Cinema Lovers Community (CLC) Purbalingga.

Komunitas ini memfasilitasi kegiatan perfilman berbasis komunitas di Purbalingga dengan mengadakan workshop film, produksi film, pemutaran film, database film, distribusi film, dan festival film. Komunitas ini pula yang akhirnya memilih lelaki kelahiran 14 Mei 1976 sebagai direktur, termasuk direktur Festival Film Purbalingga.

Sejak 2007, CLC menggelar Parade Film Purbalingga (PFP) yang menjadi even tahunan bernama Festival Film Purbalingga (FFP) hingga sekarang. Sutradara yang juga Sekretaris Jaringan Kerja Film Banyumas (JKFB) ini, masih rajin memproduksi film pendek dan dokumenter serta membidani kelahiran generasi sineas muda (pelajar) di tanah kelahirannya Purbalingga.

Berikut ini wawancara Teguh Imam Suryadi dari tabloidkabarfilm.com dengan Bowo Leksono:

Bagaimana pandangan Anda tentang komunitas film di Indonesia, terutama di Purbalingga?

Secara umum, aktivitas komunitas film di Indonesia ya semakin maju. Banyak kota, terutama kota-kota sedang dan kecil di Indonesia, sudah lahir para pembuat film muda yang tergabung dalam komunitas-komunitas. Mereka tumbuh di kampus maupun di sekolah-sekolah, seiring perkembangan teknologi. Bandingkan dengan diawal tahun 2000-an, masih jarang. Bahkan istimewanya, sampai sekarang, komunitas-komunitas itu tidak hanya membuat film, namun mereka juga melakukan eksebisi (pemutaran) dan distribusi sendiri. Apa yang terjadi di banyak kota di Indonesia, juga dilakukan di Purbalingga. Generasi pecinta film terus lahir setiap tahun. Ada kalanya, terjadi fluktuasi dalam perkembangannya, dimana melewati tahun-tahun yang sulit melahirkan generasi pembuat film yang menghasilkan karya-karya yang baik. Tapi semua itu bagian dari proses.

CLC Purbalingga sangat masif dalam meraih prestasi dari tahun ke tahun, seperti apa konsepnya?

Saya dengan beberapa kawan, merelakan diri menjadi fasilitator. Harus sabar dan betah dengan kesulitan-kesulitan yang juga musti dihadapi dengan gembira dalam melayani anak-anak muda, khususnya pelajar, yang mau dengan baik belajar soal film.

Anda terpilih sebagai Insan Penggerak Komunitas Film di ajang ACFFest pekan lalu, apa makna penghargaan itu untuk Anda?

Tantangannya jadi semakin berat. Saya dan kawan-kawan seperti tidak boleh mundur dari tugas mendampingi anak-anak muda. Bahwa dunia perfilman, yang kami bangun sejak 10 tahun silam di daerah, sudah menjadi medium apresiasi dan berekspresi bagi anak muda. Mereka bisa berbicara dan menyuarakan lingkungan sekitar lewat film dan dapat diapresiasi oleh banyak orang.

Bisa ceritakan kemudahan dan kesulitan menjalankan program di komunitas Anda? 

Kemudahannya, sistem yang sudah kami bangun bertahun-tahun tinggal menjalankan saja, dengan pelan-pelan perbaikan di sana-sini untuk menjadi lebih baik. Misal, program pemutaran Layar Tanjleb, kami sudah membangun penonton baru sejak lama dengan cara mendatangi mereka dan hasilnya berupa kepuasan bagi kami setelah memberikan hiburan yang mendidik pada warga. 

Sementara kesulitan selalu ada dan melekat, namun karna kesulitan-kesulitan inilah yang membuat kami jadi terus belajar menjadi lebih baik. Bahwa melahirkan para pembuat film muda tidaklah mudah, mereka tidak cukup hanya semangat dan modal bakat. Untuk kasus para pelajar misalnya, sekolah musti mendukung kebebasan berekspresi dari para siswa, belum lagi orang tua mereka yang kerap menjadikan prestasi akademik adalah segala-galanya.

Selain membimbing membuat film, Anda juga 'meracuni' anak-anak Purbalingga untuk keras melawan tirani? Mengapa?

Hahahaa... Tirani yang sekarang itu tidak tahu kalau saya Mantan Aktivis '98 yang memang sejak mahasiswa, saya menggunakan kesenian untuk 'melawan'. Dulu, semasa mahasiswa, saya berteater dan dengan medium itu saya berusaha peka pada lingkungan. Usai Orde Baru tumbang, kekuatan teater meredup lalu saya menemukan medium baru bernama film. Nah, karena saya berprinsip bahwa 'Seni untuk Masyarakat' bukan 'Seni untuk Seni' ya saya ajarkan pada generasi muda agar peka pada penderitaan orang-orang disekelilingnya dengan film sebagai mediumnya.

Ceritakan sedikit latarbelakang berdirinya CLC Purbalingga.. 

Cinema Lovers Community (CLC) kami dirikan tahun 2006, tepatnya 4 Maret 2006. Itu dua tahun setelah saya dengan beberapa kawan membuat beberapa film pendek yang sempat diputar keliling ke beberapa sekolah-sekolah di Purbalingga, karena memang di Purbalingga tidak ada kampus. Kami sengaja membentuk CLC karna saat itu ingin anak-anak muda Purbalingga bisa membuat film dan mencintai film, sehingga kami yang saat itu cuma kelompok kecil kelak medium yang kami pilih bisa ramai dan menjadi alternatif anak-anak muda berekskpresi. Karenanya, sejak saat itu, kami merelakan menjadi fasilitator dan teman belajar anak-anak muda di Purbalingga. Saat itu, yang kami gandeng adalah teman-teman yang melakukan usaha jasa video manten. Kami berbagi ide, konsep, dan peralatan. Lalu, para pelajar, SMP dan SMA yang memang dari awal kami anggap sebagai kekuatan di Purbalingga.

Apakah cita-cita CLC sudah tercapai? Apa langkah selanjutnya?

Tampaknya, keinginan dan cita-cita kami tidak serta-merta berada di puncak, karena semakin tahun semakin banyak PR bagi kami. Semakin tahun semakin bertambah anak muda yang ingin belajar membuat film dan semakin bertambah jumlah filmnya, tentu PR-nya bagaimana karya-karya film itu bisa ditonton sebanyak-banyaknya masyarakat.**

 

Foto Lainnya:

 

 

 

Last modified on Tuesday, 16 December 2014
Read 2248 times
Rate this item
(0 votes)
TIS

шаблоны joomla на templete.ru