Скачать бесплатно шаблоны для Wordpress.
Новые шаблоны DLE 10 на dlepro.ru

Menempatkan sutradara sebagai penulis sekaligus pemain di film komedi adalah pilihan. Jika penonton tidak mendapat kesan lucu, lain urusannya. Kesulitan seorang kreator mengelaborasi situasi kreatif ini tampak jelas di film Single, produksi Soraya Intercine Films.

Raditya Dika dikenal punya kekuatan konsep komedi di buku-buku yang ditulisnya, namun tidak cukup kuat untuk melakoni peran keaktoran seperti di film Single, yang di sutradarai sendiri. 

Film ini bercerita tentang seorang pria muda bernama Ebi yang tinggal di rumah kos bersama dua temannya, Wawan dan Victor. Konon, kedua temannya itu sudah memiliki pacar masing-masing. Sebenarnya, status pacaran itu tidak jelas. Mereka seratus persen single atau jomblo. 

Wawan (Pandji Pragiwicaksono) dan Victor (Babe Cabiita) tetap merasa punya pengalaman pacaran, dan banyak memberi nasihat spiritual kepada Ebi tentang cara mendekati lawan jenis.

Suatu ketika, rumah kos mereka kedatangan tamu baru, Angel (Annisa Rawless) namanya.  Ebil jatuh hati tapi mendapat hambatan dari Joe (Chandra Liow), teman kecil Angel yang diam-diam juga naksir Angel. Keduanya kemudian bersaing mendapatkan simpati Angel. 

Di ujung cerita, Angel memilih cinta Ebi lantaran ibunya Angel yang sakit Alzheimer (Rina Hasyim) sembuh setelah makan nasi goreng racikan Ebi. Ihwal nasi goreng penyembuh Alzheimer ini sebenarnya menarik diulik, namun tidak muncul sebagai sebuah scene.

Sebagai pemeran, Raditya Dika tidak beranjak dari karakternya seperti dalam di film-film sebelumnya. Posisinya lebih banyak sebagai obyek dan korban, dengan gaya ungkap verbal dan fisikal yang sengaja dibuat lucu namun justru terlihat aneh. 

Alih-alih ingin menghadirkan tontonan komedi, film ini justru minim pesan komedi.  Lelucon ala stand up comedy dari Raditya Dika, Pandji, dan Babe Cabiita yang terbiasa bermain dalam durasi dibawah 10 menit  tidak mampu memecah di film berdurasi panjang ini.

Beberapa adegan dan dialog cukup mengena dan memancing tawa, namun selebihnya datar. Bahkan untuk karakter Joe sendiri tampak terlalu dibuat-buat. Mungkin inilah komedinya. Kebanyakan penonton gala premiere film ini di Studio XXI Plaza Senayan, Sabtu (12/12/2015) malam, umumnya wartawan. Mereka lebih terlihat tenang, dan bahkan berkomentar; “Lucunya Raditya Dika, dimana?” (imam)

Last modified on Monday, 14 December 2015
Read 3250 times
Rate this item
(0 votes)
TIS

шаблоны joomla на templete.ru