Скачать бесплатно шаблоны для Wordpress.
Новые шаблоны DLE 10 на dlepro.ru

Tiga penyanyi jebolan D’Academy Indosiar, Ical Majene, Evie Samba, dan Rani tampil anggun dan ‘kinclong’ dalam balutan busana kain tenun songket rancangan Anna Mariana di acara “Konser Raya 22 Indosiar”, yang berlangsung Rabu (11/1/2017) malam.

Anna Mariana adalah pelopor dan pelestari Tenun dan Songket Bali, yang telah beberapa kali ‘mendandani’ sejumlah artis dan penyanyi.  “Ini semua untuk lebih mendekatkan tenun songket kepada masyarakat lebih luas,” kata Anna, yang juga seorang advokat.

Malam itu, kostum rancangan Anna yang dikenakan Ical berupa semi jas berwarna hitam, dengan bahan songket Bali. “Saya pilihkan kostum berwarna hitam  dengan ornamen putih, karena sosok Ical  masih sangat muda dan polos, saya kuatkan karakternya dengan memakai kostum berwarna hitam,” katanya.

Ical, penyanyi Juara 1 D’Academy 3 itu tersenyum mendengar penuturan Anna. Dia pun berterima kasih dibuatkan kostum untuk acara istimewa malam itu.

“Saya bangga mengenakan kostum ini, apalagi untuk acara besar ulangtahun Indosiar malam ini. Mengenakan  kostum dengan mengedapankan tenun sebagai ciri khas negeri ini  adalah sesuatu yang luar biasa!” kata Ical.

Sedangkan kostum  Evi Masamba (Juara 1 D’Academy 2) dan Rani (Juara 4 D’Academy 3) dirancang dari bahan berwana merah membara dipadu dengan sentuhan songket Bali pada bagian pinggang dan badan mereka. 

“Agar mereka makin terlihat cetar membahana,“ kata Anna, tentang pilihan warna kostum untuk dua penyanyi dangdut cantik, yang kini tengah melejit lewat Indosiar.

Sepanjang tahun 2016, Anna Mariana rutin membuatkan kostum penampilan Hetty Koes Endang  di acara Golden Memories maupun D’Academy Asia. Nama DR Hj Anna Mariana SH MH MBA,  sebagai desainer tenun songket memang sedang melejit. 

Kepiawaian Anna mendesain busana khas tradisi Indonesia tersebut, berkat pengalamannya selama lebih 33 tahun bergerak di bidang tenun dan songket. 

Anna Mariana  yang  juga Ketua Yayasan Sejarah Kain Tenun Nusantara bersemangat mempelopori kelahiran tenun dan songket khas milik Betawi. Tidak hanya itu, dia juga mendorong upaya pencanangan Hari Tenun dan Songket Nasional.

“Lebih dari 5 juta orang binaan saya di bidang tenun dan songket, sangat berharap pemerintah menetapkan Hari Tenun dan Songket Nasional. Karena jenis kain ini, sudah sejajar dengan kain batik yang telah mendapat pengakuan melalui Hari Batik Nasional,” lanjut wanita yang merayakan ulangtahun ke-57 pada 1 Januari lalu.

Anna menyebut tenun dan songket merupakan kekayaan budaya yang tidak boleh dibiarkan terkubur dan punah.  

“Tenun dan songket sangat dihargai di luar negeri,  karena budaya mereka tidak mengenal kain handmade. Semua tekstil mereka cenderung buatan mesin dan pabrik. Kalau di depan mata kita ada kekayaan budaya langka yang dipuja-puja bangsa asing, kenapa kita mengabaikannya. Kalau bukan kita, siapa yang mau berjuang untuk melestraikannya?” kata Anna yang memiliki butik Marsya House of Batik Kebaya, Tenun, Songket  & Acessories  di Pondok Indah. (imam)

 

Last modified on Thursday, 12 January 2017
Read 3483 times
Rate this item
(0 votes)
TIS

шаблоны joomla на templete.ru