Скачать бесплатно шаблоны для Wordpress.
Новые шаблоны DLE 10 на dlepro.ru

Keluarga muslim sederhana yang taat beribadah dikesankan pada sosok ayah Faisal (Surya Saputra) dan ibu Amira (Cynthia Lamusu) bersama kedua anak mereka, Zulfikar (M Hasan Ainun) dan Adinda (Tissa Biani). Mereka tingal di rumah sekitar alun-alun kota Yogyakarta.

Sepuluh menit pertama film garapan sutradara Hestu Saputra ini seperti ingin mengajak berdiskusi tentang adanya perbedaan pehaman tentang Islam. 

Ada kelompok Islam tertentu yang menurut penganut Islam kelompok lainnya sebagai pihak yang sesat. Keluarga Faisal digambarkan penganut Islam sesat. Dia diusir dari tempat tinggal yang lama. Namun di tempat baru ini Faisal masih merasa tidak nyaman.

Ketegangan Faisal sebagai kepala keluarga yang dituding sesat ini mempengaruhi caranya bermasyarakat. Terhadap Adinda, anaknya yang pandai mengaji pun Faisal bersikap otoriter. 

Tentang tudingan terhadap Faisal yang sesat tidak digambarkan dengan gamblang dalam cerita. Hanya ada sedikit 'tanda' terjadi konflik itu dari percakapan beberapa orang yang sepertinya sepaham dengan Faisal ketika mereka bertamu ke rumah Faisal.

Obrolan Faisal dan kelompoknya sempat memanas dan tanpa sengaja dilihat Adinda yang baru pulang dari sekolah. Sang ibu cepat-cepat membawa Adinda ke kamarnya. Adinda dibiarkan bertanya-tanya sendiri tentang kejadian di rumahnya itu.

Adinda adalah pelajar sekolah dasar yang ceria dan ingin menunjukkan prestasi kepada kedua orangtuanya. Namun ayahnya melarang mengikuti kegiatan seni kasidah di sekolah. Tidak ada alasan yang disampaikan mengapa dirinya dilarang ikut berkasidah. 

Bahkan Faisal mendatangi kepala sekolah yang merekomendasikan Adinda mengikuti lomba kasidah. “Pokoknya, Adinda tidak boleh ikut kasidah. Permisi,” kata Faisal sambil meninggalkan ruang kepala sekolah. 

Beruntung Adinda punya dua teman Fajrul (Badra Andhipani) dan Emi (Alya Shakila Saffana) yang selalu mendukung. Diam-diam, Adinda mengikuti ajang lomba MTQ se-Yogyakarta dan mendapat banyak pujian. 

Diantara para penonton lomba MTQ entah siapa, merekam Adinda yang membaca ayat-ayat Alquran dan menyebarkan rekaman itu ke media sosial Youtube.

Saat itu juga di pasar tempat Faisal bekerja sebagai penjual daging, orang-orang ramai menonton Adinda di Youtube. Mengetahui Adinda ikut MTQ, lagi-lagi Faisal tersulut emosinya. Ada sesuatu yang membuatnya sangat khawatir dan ketakutan. 

Di rumah, dia marah dan mengultimatum Adinda agar tidak melanjutkan kegiatan MTQ. Parahnya lagi, Adinda tidak boleh keluar rumah. Namun ridak ada penjelasan dari film yang digarap oleh sutradara film “Merry Riana Mimpi Sejuta Dolar” ini, mengapa Faisal bersikap seperti itu.

Pada akhirnya ketika Adinda menjadi Juara Favorit MTQ se Yogyakarta, sang ayah berubah sikap. Dia menerima dan bangga atas kemenangan Adinda.  

Lagi-lagi tidak jelas mengapa Faisal berubah sikap terhadap Adinda. Jika film ini dimaksudkan untuk mengangkat konflik yang berawal dari isu sesat beragama, penonton justru dibiarkan tersesat bingung memikirkan siapa ‘musuh’ Faisal sebenarnya. Sehingga Faisal dan kelompoknya yang dihinggapi ketakutan tanpa sebab itu seperti ribet sendiri.

Beruntung masih bisa tersenyum dengan dialog khas Yogyakarta dari senior pelawak Marwoto, Yati Pesek dan lainnya. (imam)

 

Last modified on Tuesday, 09 June 2015
Read 4794 times
Rate this item
(0 votes)
TIS

шаблоны joomla на templete.ru